Sering kali kita benar-benar salah memahami apa yang dikatakan orang lain kepada kita. susah berapa kali kita salah memahami perkataan orang lain? atau orang salah memahami yang kita katakan kepada mereka? salah menafsirkan makna ucapan kita atau ucapan orang kepada kita? itu sudah berkali-kali kualami, dan aku yakin pernah juga kalian alami.
bahasa memang rumit karena ada masalah-masalah seperti pengucapan, kosakata yang terbatas, arti ganda, slang, dan banyak lagi lainnya yang mengganggu kemampuan kita untuk saling memahami. Tetapi, haruskah rintangan-rintangan itu menghentikan usaha kita untuk mengatasi masalah ini ?
Allah telah dengan jelas berfirman :
“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, serta perbedaan bahasa dan warna kulitmu. sungguh, dalam yang demikian itu ada tanda-tanda bagi orang yang mengetahui (QS. Ar-Rum 30:22)
Subhanallah. Allah sebenarnya memberitahu kita bahwa Dia sudah merencanakan sedemikian rupa bahwa akan ada perbedaan dalam bahasa-bahasa kita. fakta bahwa bahasa disebutkan dalam al-Qur’an yang mulia sebagai salah satu perbedaan di antara manusia mengisyaratkan bahwa bahasa memiliki arti penting tertentu, begitu bukan?
sedikitnya ada 2 hal yang kupikirkan disini. yang pertama adalah jumlah bahasa di dunia ini, dan yang kedua adalah istilah-istilah slang yang ada dalam bahasa-bahasa itu.
tahukah kalian bahwa ada 6.800 bahasa yang sekarang digunakan di dunia? Subhanallah. Aku sendiri tidak percaya ketika pertama kali mengetahui fakta ini. dan dari jumlah itu, berapa bahasa yang benar-benar kukuasai dengan fasih? Hmm….ini layak dipikirkan.
Nah, coba kita analisis masalah ini lebih dalam. Kita ambil contoh bahasa Inggris. Boleh aku bertanya kepada kalian? Dengan berapa cara kita bisa mengatakan “Halo” dalam bahasa Inggris?
Ayo tebak. Oke, sebenarnya aku sendiri tidak tahu, tapi kalau kalian tahu, tolong beri tahu aku. berikut ini sekedar beberapa contoh tentang bagaimana kita bisa mengganti kata “halo” dengan frasa-frasa yang bermakna sama.
Sebagian memang tidak berbelit-belit, seperti hi (hai), good evening (selamat malam), pleasure to meet you (Senang bertemu dengan Anda), dan sebagainya. Di lain pihak, ada frasa-frasa yang mungkin menimbulkan kebingungan bagi orang-orang yang bukan penutur asli, seperti :
what’s up? (up [ke atas], kemana?), What’s cooking? ([masak apa?], hidangan laut?), How’s it going (going [pergi], ke rumah?), Hey man! What it is? (apanya yang apa?), Howdy! (ini nama?), What’s shaking? (shaking [gemetar], tanganku yang gemetar?), dan banyak lagi.
paham maksudku?
Karena itulah, ayat berikut ini sangat masuk akal…
“Wahai manusia! Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu bagi Allah adalah yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahasempurna pengetahuan-Nya”. (QS. Al-Hujurat 49:13)
Allah sudah memberi kita petunjuk. Seperti inilah kita diciptakan, berbeda satu sama lain, supaya kita bisa saling mengenal. Saling belajar dari yang lain. Selalu ada alasan di balik setiap aspek penciptaan-Nya. Subhanallah.
Nah, sekarang kita tahu bahwa memang banyak perbedaan di antara kita, bagaimana kita mengatasi setiap masalah komunikasi yang mungkin kita hadapi? bagaimana meminimalkan potensi salah paham diantara kita?
Yang menarik, aku tahu bahwa Nabi Musa a.s. pernah memanjatkan doa kepada Allah yang Mahakuasa sewaktu beliau menjalankan misi menemui Firaun.
“Ya Tuhanku! Lapangkanlah dadaku. Mudahkanlah tugasku bagiku. Dan hilangkanlah buhul dari lidahku, supaya mereka paham perkataanku” (QS. Thaha 20: 25-28 )
Subhanallah. Ini doa yang hebat sekali! Akan kuhafal doa ini di luar kepala. Tiba-tiba saja terpikir olehku bahwa rupanya sedari dulu komunikasi selalu menjadi ujian bagi umat manusia, bukan?
Aku masih ingat masa-masa disekolah dulu. Kompetisi debat terbuka yang pertama kali kuikuti merupakan pengalaman yang mengerikan untukku. Aku masih ingat bagaimana perasaanku begitu aku berdiri untuk menyampaikan “pidato” enam menit itu. Nyaris seketika itu juga aku pucat lesi dan, selama beberapa detik berikutnya, wajahku memerah dan terasa panas dan aku menjadi versi manusianya Pink Panther !
Yah, begitulah yang diceritakan teman-temanku yang ikut menonton.
Jadi, wajar saja, karena pernah menjadi korban demam panggung sewaktu berbicara di depan umum, aku sangat ingin tahu apakah ada teknik-teknik untuk mengatasi masalah ini.
Keingintahuanku terjawab ketika aku menemukan hadis indah ini, yang dengan jelas menunjukkan kepadaku teknik komunikasi yang digunakan Nabi Muhammad (saw) tercinta.
Anas bin Malik memaparkan bahwa apabila Nabi Muhammad (saw) harus menyampaik sesuatu, beliau selalu mengulangi perkataannya tiga kali sehingga benar-benar dipahami. bila berjumpa orang-orang, beliau menyapa mereka tiga kali. (HR. Bukhari)
Subhanallah. Jadi itulah teknik komunikasinya. Mengulang perkataan kita 3 kali agar kita lebih dipahami. Tiga kali tentu cukup untuk menyampaikan pesan kita. Aku suka cara ini. Sangat sederhana. Lalu aku menemukan satu hadits lain yang diwariskan Rasulullah tercinta untuk kuikuti :
Aisyah berkata, “Kata-kata Rasulullah adalah kata-kata yang jelas, yang dapat dipahami oleh semua orang yang mendengarkan.” (menurut imam Adh-Dhahbi sanad hadits ini baik. Hal ini disebutkan dalam buku yang berjudul Al-Muhadhdhab)
Bukan hanya mengulang perkataan 3 kali, beliau juga memastikan bahwa kata-kata yang beliau pakai jelas bagi semua orang, dengan memilih kata-kata yang dapat dengan mudah dimengerti oleh orang-orang yang mendengarkan beliau. ini berarti bahwa beliau memakai kata-kata yang gamblang, yang dapat dimengerti hadirinnya. Jadi, jika kita berbicara dengan mahasiswa, kita harus menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa yang kita pakai bila berbicara dengan para profesor. Demikian pula, anak kecil memerlukan bahasa yang lebih sederhana jika dibandingkan dengan remaja.
Jadi, beginilah tekniknya. Pertama, aku harus mengulang perkataanku tiga kali jika aku merasa bahwa lawan bicaraku mungkin kesulitan mengartikan apa yang kukatakan. Kedua, aku harus berbicara dengan jelas, kata demi kata. Dan ketiga, aku harus memakai kata-kata yang dipahami oleh pendengarku.
Tiga langkah dan, insya Allah dengan rida Allah, kemahiran komunikasi kita akan jauh lebih baik. Sangat lugas, mudah, jelas, bukan begitu ? Hampis seperti haditsnya sendiri. Masyaallah….
Izinkan aku menyampaikan sebuah kisah yang pernah kubaca tentang apa yang terjadi jika dan bila kita gagal melaksanakan nasihat di atas.
Penelpon : Halo, bisa saya bicara dengan Annie Wan? (Annie Wan diucapkan dengan eniwan)
Operator : Ya, anda bisa bicara dengan saya.
Penelpon : Bukan begitu, saya ingin bicara dengan Annie Wan!
Operator : Ya, saya mengerti Anda ingin bicara dengan anyone(juga diucapkan eniwan tetapi berarti ‘siapa saja’). Anda bisa bicara dengan saya. Nama Anda siapa?
Penelpon : Saya Sam Wan (diucapkan samwan). Dan saya harus bicara dengan Annie Wan! ini penting sekali.
Operator : Saya tahu Anda adalah someone (juga diucapkan samwan tetapi berart ‘seseorang), dan Anda ingin bicara dengan anyone! Tapi masalah penting apakah itu?
Penelepon : Well…katakan saja kepada adik saya Annie Wan bahwa kakak laki-laki kami Noe Wan mengalami kecelakaan (Noe Wan diucapkan nowan). Noe Wan terluka dan sekarang dibawa ke rumah sakit. Sekarang ini Avery Wan (diucapkan everiwan) sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
Operator : dengar ya, kalau no one ( juga diucapkan nowan tetapi berarti ‘tidak seorang pun’) yang terluka dan no one dibawa ke rumah sakit, maka kecelakaan itu bukan masalah penting! Anda mungkin menganggap ini lucu, tetapi saya tidak punya waktu untuk melayani urusan ini!
Penelepon : Kau ini kasar sekali? Siapa namamu?
Operator : Saya Saw Ree (diucapkan I’m Saw Ree seperti I’m sorry yang berarti saya menyesal)
Penelepon : Ya! Sudah seharusnya kamu menysal. Sekarang sebutkan namamu!
Operator : Tadi sudah saya katakan. I’m Saw Ree
Penelepon : Ya ampuuuunn!!!
(percaakapan dalam bahasa Inggris)
sumber : buku satu tiket ke surga