Feeds:
Posts
Comments

Aku pernah mendengar pribahasa yang berbunyi : “Berbuat kesalahan adalah manusiawi; menyalahkan orang berikutnya bahkan lebih manusiawi lagi.”

Astaga! Bukankah itu yang kita sebut “kebenaran yang gamblang?” Mari kita tanyakan kepada diri kita sendiri : Bila kita terlambat datang rapat, lupa ada janji bertemu, hasil ujian kita mengecewakan, gagal menyerahkan tugas pada waktunya, hasil tim kita tidak mencapai target, penjualan menurun, kamar kita sangat berantakan, kalkun panggang gosong, calon klien menolak, jarum timbangan badan bergerak ke kanan dan bukan ke kiri, atau bila 24 jam sehari terasa masih belum cukup—apa reaksi awal bila kita menabrak itu semua?

Ingin tahu apa yang aku sendiri katakan dalam berbagai kejadian itu? Apakah aku–sebagai orang dewasa yang matang—memiliki versi “dinding nakal”-ku sendiri? Hmmm…..ini benar-benar harus kupikirkan terlebih dahulu.  Ya, sudah pasti, aku akan berkata “dinding nakal, dinding nakal!” Lalu aku menemukan pepatah Jepang yang menusukku tepat di tempat yang paling peka :

Benahi masalahnya, bukan kesalahannya.

Ya, mereka benar, bukan begitu?

Kurasa pepatah ini tercermin dengan baik dalam falsafah hidup dan keyakinan bangsa Jepang. Bangsa Jepang–seperti yang kita saksikan–merupakan bangsa yang paling berhasil berkiprah kembali dalam sejarah dunia setelah negara mereka benar-benar diratakan  seperti panekuk selama Perang Dunia II pada 1945. Tetapi, oleh para ahli sejarah mereka diakui sudah bangkit kembali dan menciptakan keajaiban ekonomi pasca perang antara 1950 dan 1990.

Nah, dengan kredibilitas seperti itu, jelaslah bahwa kita sebaiknya belajar dari orang-orang jenius ini, bukan? Alih-alih cepat mencari “dinding” untuk disalahkan, sebaiknya kita membenahi masalahnya! Tentu saja!

Tetapi, aku ingin tahu : Mengapa aku begitu cepat menyalahkan “dinding” bila sesuatu menimpaku? Di sinilah aku teringat firman Allah, Sang MahaKuasa:

“Sungguh, manusia diciptakan sangat tidak sabaran; suka berkeluh kesah bila ditimpa kesusahan” (al-Ma’arij 70:19-20)

Subhanallah…Ia, Sang Mahakuasa, berkata bahwa kita ini S-A-N-G-A-T tidak sabaran dan suka berkeluh kesah bila ditimpa musibah. Kedengarannya persis seperti aku–mudah gugup dan panik bila sesuatu yang berbau bencana terjadi!

Dan kurasa, selagi aku berkeluh kesah itu, otakku cepat masuk ke modus gawat darurat (dengan sirene merah meraung-raung), memindai dan mencari-cari “apa” dan “siapa” di dalam database RAM memoriku yang tepat untuk terpilih menjadi dinding sekaligus bantal latih tinjuku, betul tidak?

Dan coba tebak! Robert Half yakin sekali bahwa kita pasti bisa menemukan bantal latih tinju kita : “Upaya mencari seseorang untuk disalahkan selalu berhasil”

Betul sekali!

(bersambung)

1. Hadits, Atsar dan Matan
Ashal arti hadits ialah omongan, perkataan, ucapan dan sebangsanya. Ghalibnya terpakai untuk perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Jika disebut hadits Nabi, maka maksudnya ialah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam. Terkadang disebut hadits Anas, umpamanya, maka maksudnya ialah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Anas. Sering juga dikatakan Hadits Bukhari, umpamanya, maka maksudnya ialah Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari di dalam kitabnya.
Lafazh hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dinamakan matan hadits atau isi hadits.
Atsar ialah perkataan sahabat sebagaimana hadits perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Terkadang omongan dari sahabat dikatakan riwayat.

2. Gambaran sanad
Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam didengar oleh sahabat (seorang atau lebih), kemudian mereka (sahabat) sampaikan kepada tabi’in (seorang atau lebih). Kemudian tabi’in sampaikan kepada orang2 generasi berikutnya. Demikianlah seterusnya, hingga dicatat hadits-hadits tersebut oleh Imam-Imam ahli hadits, seperti Malik, Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan lain-lain.
Ketika meriwayatkan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, Bukhari (misalnya) berkata bahwa hadits ini disampaikan kepada saya melalui seseorang, namanya A. Dan A berkata, disampaikan kepada saya dari B. B berkata, disampaikan kepada saya dari C, dan seterusnya sampai G (misalnya). G berkata bahwa diucapkan kepada saya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Menurut contoh ini, antara Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Bukhari ada 7 orang (A – G). Adapun dalam sebuah sanad, tidak selalu ada 7 orang perantara. Bisa kurang dan bisa lebih.

3. Rawi, Sanad dan Mudawwin
Tiap-tiap orang dari A sampai G yang tersebut pada contoh diatas dinamakan Rawi, yakni yang meriwayatkan hadits. Adapun kumpulan rawi-rawi tersebut dinamakan Sanad, yakni sandaran, jembatan, titian, atau jalan yang menyampaikan sesuatu hadits kepada kita. Sanad terkadang disebut juga isnad.
Mudawwin artinya pembuku, pencatat, pendaftar, yaitu orang alim yang mencatat/membukukan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, seperti : Malik, Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dll.

4. Shahabi (Shahabat) dan tabi’i
G yang mendengar hadits dari Nabi shallallahu alaihi wasallam seperti contoh nomor 2 tersebut adalah sahabi (sahabat), dan F yang mendengar hadits dari G dan tidak berjumpa dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam disebut tabi’i.

5. Sifat-sifat Rawi
Tiap-tiap orang dari rawi sebuah hadits haruslah mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

  • Bukan pendusta
  • Tidak dituduh sebagai pendusta
  • Tidak banyak salahnya
  • Tidak kurang ketelitiannya
  • Bukan fasiq
  • Bukan orang yg banyak keraguan
  • Bukan ahli bid’ah
  • Kuat hafalannya
  • Tidak sering menyalahi rawi-rawi yang kuat
  • Terkenal

6. Marfu
Satu hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam oleh seorang rawi hingga sampai kepada ulama Mudawwin (BUkhari, muslim, dll) dinamakan hadits Marfu’, yaitu hadits yang riwayatnya sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Bila ada seorang ahli hadits mengatakan bahwa “hadits itu dirafa’kan oleh seorang sahabi”, misalnya Ibn Umar, maka maksudnya ialah Ibn Umar meriwayatkan hadits tersebut dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan bukan dari fatwanya sendiri.
Jika ada di kitab-kitab para ahli hadits “rafa’kan suatu hadits”, maka maksudnya untuk menunjukkan bahwa sanadnya sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan bukan hanya sampai sahabat saja. Bila ada perkataan “tidak sah rafa’nya”, maka sanadnya hanya sampai kepada sahabat saja.
Kalimat “marfu’ gholibnya’ dipakai untuk hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Bila ada perkataan “Bukhari tarjihkan rafa’nya”, berarti hadits tersebut ada yg menganggap marfu’ dan ada yg anggap mauquf, namun anggapan yang kuat adalah marfu’.

7. Maushul
Hadits yang sanadnya sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan tidak putus dinamakan maushul atau mut-tashilus- sanad, yaitu yang bersambung dan tidak putus sanadnya. Perkataan maushul ini juga dipakai buat sanad atau riwayat atau atsar sahabat atau tabi’in yang tidak putus. Apabila ulama berkata bahwa Tirmidzi washalkan hadits itu, artinya Tirmidzi bawakan bagi hadits itu atau bagi atsar itu sanad yang tidak putus.

8. Mauquf
Fatwa sahabat atau anggapan sahabat sendiri yang diriwayatkan kepada kita, dinamakan mauquf, yaitu sanadnya terhenti di sahabat dan tidak sampai ke Nabi shallallahu alaihi wasallam. Bila dalam satu perkataan yang dikatakan hadits, namun bila diperiksa sanadnya hanya terhenti sampai sahabat, maka dinamakan hadits mauquf.
Perkataan ulama misalnya bahwa hadits itu diwaqafkan oleh Tirmidzi, maka artinya bahwa Tirmidzi membawakan sanad yang hanya sampai kepada sahabat. Bila ada ulama yang mengatakan ‘mauqufnya lebih rajih’, maka artinya adalah hadits tersebut masih diperdebatkan sanadnya apakah ia marfu’ atau mauquf, namun yang lebih rajah (berat) adalah mauqufnya.

9. Mursal
Apabila ada seorang tabi’I yang pastinya tidak bertemu Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata :”telah bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam…” , maka apa yang diriwayatkan dinamakan hadits mursal, karena hadits tersebut dilangsungkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tanpa melalui perantara sahabat.

10. Mutawatir, Masyhur, ‘aziz dan gharib
Hadits mutawatir adalah hadits yang memiliki banyak sanadnya (lebih dari 3)
Hadits Masyhur adalah hadits yang memiliki se-kurang2nya 3 sanad
Hadits ‘aziz adalah hadits yang memiliki se-kurang2nya 2 sanad
Hadits Ahad adalah hadits yang memiliki hanya 1 sanad.

11. Dha’if
Yaitu sebuah hadits yang tidak dapat memenuhi syarat-syarat hadits shahih, juga hadits hasan. Hadits ini menjadi dha’if juga dikarenakan ketidaksesuaian yang terdapat didalam sanadnya.

12. Shahih dan hasan
Yaitu hadits yang seluruh rawi dalam sanadnya sudah memenuhi syarat seperti tercantum di point 6 diatas. Hadits shahih wajib digunakan sebagai dasar hukum dan amal. Beberapa hadits shahih walaupun kelihatan seperti bertentangan, namun bila diteliti akan ditemukan persamaanya, karena tidak mungkin ada 2 hadits shahih yang bertentangan. Dan, hadits shahih tidak mungkin bertentangan dengan Al-Quran. Kalau kita berfikir, bahwa sebuah hadits sanandnya shahih, mana mungkin matannya buruk?

13. Sifat rawi yang lemah
Sebuah hadits tidak akan dianggap shahih bila didalam sanadnya terdapat seorang rawi yang lemah. Sifat2 lemah tersebut antara lain :

  • Pendusta, pembohong
  • pemalsu
  • lembek
  • jelek hafalannya/pelupa
  • munafiq
  • dan lain-lain

14. Musnad dan sunan
Sebuah kitab yang urutan penulisannya berdasarkan perawi, maka disebut kitab musnad. MIsalnya Kitab musnad Ahmad, maka sistematika penulisannya berdasarkan pasal perawi, misalnya Pasal Ibn Abbas, Pasal Ibn Umar, dst.
Sementara, kitab yang yang urutannya didasarkan pada fiqh, maka disebut kitab sunan. MIsalnya kitab sunan Abu dawud, maka sistematika penulisannya berdasarkan ilmu fiqh, misalnya thaharah, shalat, jinayah, dst.

Do’a Setelah Makan

alhamdulillahilladzii ath’amana wa saqaanaa wa ja’alanaa muslimiin.

DHA’IF (LEMAH). diriwayatkan oleh Abu Dawud (no.3850), at-Tirmidzi (no.3457), Ibnu Majah (no.3283), dan selainnya.

Hadits ini lemah sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Albani. Sebab kecacatan hadits ini adalah idhtirab sanad (sanadnya goncang). Kadang dari Ismail bin Riyah dari bapaknya atau selainnya, terkadang juga dari Ismail bin Abu Idris dari Abu Said al-Khudri secara mauquf (sampai kepada Shahabat Abu Said al-Khudri saja). Kadang lagi dari Riyah dari budak Abu Said dan terkadang juga dari anak saudara (sepupu) Abu Said.

Imam adz-Dzahabi juga berkata dalam biografi isma’il bin Riyah : “Saya tidak mengetahui siapa dia. Abu Dawud mengeluarkan haditsnya. Perawi darinya (Ismail bin Riyah) hanyalah Abu Hasyim ar-Rumani saja dan haditsnya (Ismail) mudhtarib (goncang). Dan Riyah bin ‘Abidah padanya ada jahalah (tidak dikenal), Abu Hasyim (seorang terpercaya) meriwayatkan dari Isma’il bin Riyah dari bapaknya atai selainnya dari bapaknya bahwasannya Nabi saw apabila selesa dari makan, beliau berdo’a….(lalu menyebutkan do’a diatas).”

Kemudia Imam adz-Dzahabi berkata, “Gharib munkar!”

ADAPUN DO’A YANG SHAHIH :

dari Abu Umamah r.a bahwasannya Nabi saw apabila selesai makan, beliau berdo’a, ” Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak lagi baik dan penuh berkah di dalamnya, bukan pujian yang tidak mencukupi dan tersia-sia dan tidak dibutuhkan, wahai Rabb kami.” (alhamdulillahi katsiran thayyiban mubaarakan fiihi ghaira makfiyyin wa laa muwadda’in wa laa mustaghna ‘anhu rabbanaa)

(Shahih:diriwayatkan oleh Imam al-bukhari (no.5458 ), Ahmad dalam musnadnya (V/252, 256, 261, 267), Abu dawud (no.3849), at-Tirmidzi dalam Sunan-nya(no.3456) dan symaa-il Muhammadiyah (no. 191), Ibnu Majah (no.3824), an-Nasa’i dalam Sunan Kubra dan “amalul yaum wal Lailah sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf (I/163) oleh al-Mizzi)

Sumber : Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer

Do’a Sebelum Makan

allahumma baariklanaa fiimaa razaqtanaa wa qinaa ‘adzaa bannaar (“Ya Allah berkahilah apa-apa yang Engkau rizkikan  kepada kami dan jagalah kami dari adzab Neraka).

LEMAH SEKALI.  Dikeluarkan oleh Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no.459), Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil (VI/2212), ath-Thabarani dalam ad-Du’aa’(no. 888 ) dari Hisyam bin ‘Ammar menceritakan kami Muhammad bin ‘Isa bin Sami’ menceritakan kamu Muhammad bin Abu Zu’aizi’ah dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya, “abdullah bin ‘Amr bin “ash…

Muhammad bin Abu Zu’azi’ah disebutkan oleh Imam adz-Dzahabi dalam Mizaanul I’tidal(VI/149-150). “Abu Hatim berkata, “Munkarul hadits jiddan(haditsnya munkar sekali).” Demikian juga dikatakan oleh Imam bukhari.” Kemudian beliau (adz-Dzahabi) menyebutkan beberapa hadits munkar lalu berkata, “Hadits-hadits ini diriwayatkan oleh Hisyam bin ‘Ammar dari Ibnu Sami’ dari Ibnu Zu’aizi’ah.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata,”Hadits ini gharib, dikeluarkan Ibnus Sunni, dan dalam sanadnya terdapat Ibnu Abi Zu’azi’ah, dia lemah sekali. Imam Bukhari berkata, “Munkar hadits sekali.” Dan disebutkan Ibn “adi di antara hadits yang beliau ingkari. Disebutkan juga oleh Ibnu Hibban dalam adh-Dhu’afaa’ dan beliau melemahkannya.

ADAPUN DOA MAKAN YANG SHAHIH :

dari Nabi saw adalah membaca bismillah. berdasarkan hadits “umar bin Abu Salamah :

yaa ghulaa mu sammillaha….(“Wahai anak, bacaalah bismillah). (Hr. Al-Bukhari no. 5376 , dan Muslim no.2022)

3 Ciri Orang Ikhlas

Jika ada kader dakwah merasakan kekeringan ruhiyah, kegersangan ukhuwah, kekerasan hati, hasad, perselisihan, friksi, dan perbedaan pendapat yang mengarah ke permusuhan, berarti ada masalah besar dalam tubuh mereka. Dan itu tidak boleh dibiarkan. Butuh solusi tepat dan segera.

Jika merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, kita akan menemukan pangkal masalahnya, yaitu hati yang rusak karena kecenderungan pada syahwat. “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46). Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati.” (Muttafaqun ‘alaihi). Imam Al-Ghazali pernah ditanya, “Apa mungkin para ulama (para dai) saling berselisih?” Ia menjawab,” Mereka akan berselisih jika masuk pada kepentingan dunia.”

Karena itu, pengobatan hati harus lebih diprioritaskan dari pengobatan fisik. Hati adalah pangkal segala kebaikan dan keburukan. Dan obat hati yang paling mujarab hanya ada dalam satu kata ini: ikhlas.

Kedudukan Ikhlas

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.” Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat 110.

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”

Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”

Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Karena itu, bagi seorang dai makna ikhlas adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian si dai menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan kepentingan. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” Dai yang berkarakter seperti itulah yang punya semboyan ‘Allahu Ghayaatunaa‘, Allah tujuan kami, dalam segala aktivitas mengisi hidupnya.

Buruknya Riya

Makna riya adalah seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Disebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 142, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Riya juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?’” (HR Ahmad).

Dan orang yang berbuat riya pasti mendapat hukuman dari Allah swt. Orang-orang yang telah melakukan amal-amal terbaik, apakah itu mujahid, ustadz, dan orang yang senantiasa berinfak, semuanya diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah. Kata Rasulullah saw., “Siapa yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi-wangi surga di hari akhir.” (HR Abu Dawud)

Ciri Orang Yang Ikhlas

Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:

1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”

Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.

Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.”

2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)

Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.

3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.

Para dai yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jama’i dalam dakwahnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri atau lembaganya semata.

sumber : Mochamad Bugi

Hidup Adalah Anugerah

Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat  membenci  dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.

Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadisnya itu kalau gadisnya itu sudah bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadisnya itu Yang akhirnya  dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasih  gadisnya  itu .

Kekasihnya  bertanya  kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah  bisa melihat dunia. Apakah  engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya  itu ternyata buta.  Dan  dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.

Dan akhirnya si Pria kekasihnya  itu  pergi dengan  meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya  itu, “Sayangku, tolong  engkau jaga baik-baik ke-2 mata yg telah aku berikan kepadamu.”

* * * * *

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata- kata kasar Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu, Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum engkau mengeluh tentang suamimu, ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan  untuk meminta penyembuhan sehingga suaminya TIDAK LUMPUH seumur hidup.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu, Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi  ke alam kubur dengan masih menyertakan kemiskinannya.

Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.

Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.

Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu, pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.

Hidup adalah anugerah, syukurilah, jalanilah, nikmatilah  dan isilah hidup ini dengan sesuatu yg bermanfaat untuk umat manusia.

NIKMATILAH dan BERI YANG TERBAIK DI SETIAP DETIK DALAM HIDUPMU, KARENA ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI  untuk waktumu selanjutnya !!!

Dikirim oleh Karel Mandey

Mari sejenak kita merenung sambil mencoba menjawab lima buah pertanyaan yang diajukan oleh Donald A. Laird, seorang psikolog, berikut ini;

1. Apakah Anda mampu menegur tanpa menimbulkan kemarahan?
2. Apakah Anda mampu menolak tanpa mengecilkan arti?
3. Apakah Anda mampu tertawa bersama bila kelucuan itu menyangkut
diri Anda sendiri?
4. Apakah Anda mampu memelihara semangat jika menghadapi suatu
kegagalan?
5. Apakah Anda mampu tenang jika harus menghadapi situasi darurat?

Pertanyaan di atas merupakan cara pengukuran yang sederhana untuk menilai apakah seseorang berpotensi untuk menjadi pemimpin. Apabila jawaban anda adalah “mampu” untuk semua pertanyaan di atas, maka anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pemimpin. Selamat!

Sering kali kita benar-benar salah memahami apa yang dikatakan orang lain kepada kita. susah berapa kali kita salah memahami perkataan  orang lain? atau orang salah memahami yang kita katakan kepada mereka? salah menafsirkan makna ucapan kita atau ucapan orang kepada kita? itu sudah berkali-kali kualami, dan aku yakin pernah juga kalian alami.

bahasa memang rumit karena ada masalah-masalah seperti pengucapan, kosakata yang terbatas, arti ganda, slang, dan banyak lagi lainnya yang mengganggu kemampuan kita untuk saling memahami. Tetapi, haruskah rintangan-rintangan itu menghentikan usaha kita untuk mengatasi masalah ini ?

Allah telah dengan jelas berfirman :

“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, serta perbedaan bahasa dan warna kulitmu. sungguh, dalam yang demikian itu ada tanda-tanda bagi orang yang mengetahui (QS. Ar-Rum 30:22)

Subhanallah. Allah sebenarnya memberitahu kita bahwa Dia sudah merencanakan sedemikian rupa bahwa akan ada perbedaan dalam bahasa-bahasa kita. fakta bahwa bahasa disebutkan dalam al-Qur’an yang mulia sebagai salah satu perbedaan di antara manusia mengisyaratkan bahwa bahasa memiliki arti penting tertentu, begitu bukan?

sedikitnya ada 2 hal yang kupikirkan disini. yang pertama adalah jumlah bahasa di dunia ini, dan yang kedua adalah istilah-istilah slang yang ada dalam bahasa-bahasa itu.

tahukah kalian bahwa ada 6.800 bahasa yang sekarang digunakan di dunia? Subhanallah. Aku sendiri tidak percaya ketika pertama kali mengetahui fakta ini. dan dari jumlah itu, berapa bahasa yang benar-benar kukuasai dengan fasih? Hmm….ini layak dipikirkan.

Nah, coba kita analisis masalah ini lebih dalam. Kita ambil contoh bahasa Inggris. Boleh aku bertanya kepada kalian? Dengan berapa cara kita bisa mengatakan “Halo” dalam bahasa Inggris?

Ayo tebak. Oke, sebenarnya aku sendiri tidak tahu, tapi kalau kalian tahu, tolong beri tahu aku. berikut ini sekedar beberapa contoh tentang bagaimana kita bisa mengganti kata “halo” dengan frasa-frasa yang bermakna sama.

Sebagian memang tidak berbelit-belit, seperti hi (hai), good evening (selamat malam), pleasure to meet you (Senang bertemu dengan Anda), dan sebagainya. Di lain pihak, ada frasa-frasa yang mungkin menimbulkan kebingungan bagi orang-orang yang bukan penutur asli, seperti :

what’s up? (up [ke atas], kemana?),  What’s cooking? ([masak apa?], hidangan laut?),  How’s it going (going [pergi], ke rumah?),  Hey man! What it is? (apanya yang apa?),  Howdy! (ini nama?),  What’s shaking? (shaking [gemetar], tanganku yang gemetar?), dan banyak lagi.

paham maksudku?

Karena itulah, ayat berikut ini sangat masuk akal…

“Wahai manusia! Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu bagi Allah adalah yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahasempurna pengetahuan-Nya”. (QS. Al-Hujurat 49:13)

Allah sudah memberi kita petunjuk. Seperti inilah kita diciptakan, berbeda satu sama lain, supaya kita bisa saling mengenal. Saling belajar dari yang lain. Selalu ada alasan di balik setiap aspek penciptaan-Nya. Subhanallah.

Nah, sekarang kita tahu bahwa memang banyak perbedaan di antara kita, bagaimana kita mengatasi setiap masalah komunikasi yang mungkin kita hadapi? bagaimana meminimalkan potensi salah paham diantara kita?

Yang menarik, aku tahu bahwa Nabi Musa a.s. pernah memanjatkan doa kepada Allah yang Mahakuasa sewaktu beliau menjalankan misi menemui Firaun.

“Ya Tuhanku! Lapangkanlah dadaku. Mudahkanlah tugasku bagiku. Dan hilangkanlah buhul dari lidahku, supaya mereka paham perkataanku” (QS. Thaha 20: 25-28 )

Subhanallah. Ini doa yang hebat sekali!  Akan kuhafal doa ini di luar kepala. Tiba-tiba saja terpikir olehku bahwa rupanya sedari dulu komunikasi selalu menjadi ujian bagi umat manusia, bukan?

Aku masih ingat masa-masa disekolah dulu. Kompetisi debat terbuka yang pertama kali kuikuti merupakan pengalaman yang mengerikan untukku. Aku masih ingat bagaimana perasaanku begitu aku berdiri untuk menyampaikan “pidato” enam menit itu. Nyaris seketika itu juga aku pucat lesi dan, selama beberapa detik berikutnya, wajahku memerah dan terasa panas dan aku menjadi versi manusianya Pink Panther !

Yah, begitulah yang diceritakan teman-temanku yang ikut menonton.

Jadi, wajar saja, karena pernah menjadi korban demam panggung sewaktu berbicara di depan umum, aku sangat ingin tahu apakah ada teknik-teknik untuk mengatasi masalah ini.

Keingintahuanku terjawab ketika aku menemukan hadis indah ini, yang dengan jelas menunjukkan kepadaku teknik komunikasi yang digunakan Nabi Muhammad (saw) tercinta.

Anas bin Malik memaparkan bahwa apabila Nabi Muhammad (saw) harus menyampaik sesuatu, beliau selalu mengulangi perkataannya tiga kali sehingga benar-benar dipahami. bila berjumpa orang-orang, beliau menyapa mereka tiga kali. (HR. Bukhari)

Subhanallah. Jadi itulah teknik komunikasinya. Mengulang perkataan kita 3 kali agar kita lebih dipahami. Tiga kali tentu cukup untuk menyampaikan pesan kita. Aku suka cara ini. Sangat sederhana. Lalu aku menemukan satu hadits lain yang diwariskan Rasulullah tercinta untuk kuikuti :

Aisyah berkata, “Kata-kata Rasulullah adalah kata-kata yang jelas, yang dapat dipahami oleh semua orang yang mendengarkan.” (menurut imam Adh-Dhahbi sanad hadits ini baik. Hal ini disebutkan dalam buku yang berjudul Al-Muhadhdhab)

Bukan hanya mengulang perkataan 3 kali, beliau juga memastikan bahwa kata-kata yang beliau pakai jelas bagi semua orang, dengan memilih kata-kata yang dapat dengan mudah dimengerti oleh orang-orang yang mendengarkan beliau. ini berarti bahwa beliau memakai kata-kata yang gamblang, yang dapat dimengerti hadirinnya. Jadi, jika kita berbicara dengan mahasiswa, kita harus menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa yang kita pakai bila berbicara dengan para profesor. Demikian pula, anak kecil memerlukan bahasa yang lebih sederhana jika dibandingkan dengan remaja.

Jadi, beginilah tekniknya. Pertama, aku harus mengulang perkataanku tiga kali jika aku merasa bahwa lawan bicaraku mungkin kesulitan mengartikan apa yang kukatakan. Kedua, aku harus berbicara dengan jelas, kata demi kata. Dan ketiga, aku harus memakai kata-kata yang dipahami oleh pendengarku.

Tiga langkah dan, insya Allah dengan rida Allah, kemahiran komunikasi kita akan jauh lebih baik. Sangat lugas, mudah, jelas, bukan begitu ? Hampis seperti haditsnya sendiri. Masyaallah….

Izinkan aku menyampaikan sebuah kisah yang pernah kubaca tentang apa yang terjadi jika dan bila kita gagal melaksanakan nasihat di atas.

Penelpon : Halo, bisa saya bicara dengan Annie Wan? (Annie Wan diucapkan dengan eniwan)

Operator : Ya, anda bisa bicara dengan saya.

Penelpon : Bukan begitu, saya ingin bicara dengan Annie Wan!

Operator : Ya, saya mengerti Anda ingin bicara dengan anyone(juga diucapkan eniwan tetapi berarti ‘siapa saja’). Anda bisa bicara dengan saya. Nama Anda siapa?

Penelpon : Saya Sam Wan (diucapkan samwan). Dan saya harus bicara dengan Annie Wan! ini penting sekali.

Operator : Saya tahu Anda adalah someone (juga diucapkan samwan tetapi berart ‘seseorang), dan Anda ingin bicara dengan anyone! Tapi masalah penting apakah itu?

Penelepon : Well…katakan saja kepada adik saya Annie Wan bahwa kakak laki-laki kami Noe Wan mengalami kecelakaan (Noe Wan diucapkan nowan). Noe Wan terluka dan sekarang dibawa ke rumah sakit. Sekarang ini Avery Wan (diucapkan everiwan) sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.

Operator : dengar ya, kalau no one ( juga diucapkan nowan tetapi berarti ‘tidak seorang pun’) yang terluka dan no one dibawa ke rumah sakit, maka kecelakaan itu bukan masalah penting! Anda mungkin menganggap ini lucu, tetapi saya tidak punya waktu untuk melayani urusan ini!

Penelepon : Kau ini kasar sekali? Siapa namamu?

Operator : Saya Saw Ree (diucapkan I’m Saw Ree seperti I’m sorry yang berarti saya menyesal)

Penelepon : Ya! Sudah seharusnya kamu menysal. Sekarang sebutkan namamu!

Operator : Tadi sudah saya katakan. I’m Saw Ree

Penelepon : Ya ampuuuunn!!!

(percaakapan dalam bahasa Inggris)

sumber : buku satu tiket ke surga

Mutiara Hikmah

Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah pabrik dan
sama-sama tekun belajar Islam. Sama-sama mengamalkan ilmunya
dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali
harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah guru pengajiannya. Jaraknya
sekitar 10 km dari rumah peninggalan orang tua mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil
supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi
mengaji.. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia
miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaannya bekerja.

Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang sempurna, Allah
mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang
gadis yang cantik serta baik akhlaknya.

Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo’a memohon kepada Allah akan
sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan
itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan
Allah selalu mengabulkan semua do’anya itu.

Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap
sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati
bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan
pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering
kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.

Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya
dengan perjalanan hidup adiknya. Dia teringat bahwa adiknya selalu membaca
selembar kertas saat dia berdo’a, menandakan adiknya tidak pernah hafal
bacaan untuk berdo’a. Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati
adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan
hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do’a-do’anya
tiada dikabulkan oleh Allah azza wa jalla.

Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang
begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.

Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai
meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia
merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya
sehubungan do’anya tak pernah terkabul

Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan
amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada
selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya
yang berisi tulisan do’a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do’a untuk guru
mereka, do’a selamat dan ada kalimah di akhir do’anya:

“Ya, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu, Ampunilah aku
dan kakak ku, kabulkanlah segala do’a kakak ku, bersihkanlah hati ku dan
berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku didunia dan akhirat,”*

Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak diduga
ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo’a untuk memenuhi nafsu duniawinya.

Tangis Rasulullah saw.

Setiap orang pasti pernah menangis, baik kaum pria maupun wanita. Akan tetapi tahukah kamu, mengapa dan karena siapa mereka menangis? Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam juga menangis, padahal dunia berada dalam genggamannya jika beliau menghendaki. Dan Surga ada di hadapan beliau, sementara beliau berada di tempat yang paling tinggi di dalamnya. Benar, beliau memang sering menangis, sebagaimana tangisan seorang hamba ahli ibadah. Beliau menangis di dalam shalat tatkala bermunajat kepada Rabb Subhannahu wa Ta’ala . Beliau juga menangis ketika mendengarkan tilawah Al-Quran. Tangisan yang bersumber dari kelembutan hati dan ketulusan nurani serta dari ma’rifat keagungan Allah Subhannahu wa Ta’ala .

Dari Mutharrif –yakni bin Abdillah bin Asy Syikhkhir- dari bapaknya –yakni Abdullah bin Asy Syikhkhir Radhiallaahu anhu – ia berkata:
Aku datang menemui Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ketika beliau sedang shalat. Dari rongga dada beliau keluar suara seperti bunyi air yang tengah mendidih di dalam kuali, disebabkan tangis beliau.” (HR. Abu Daud)

Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pernah berkata kepadaku: “Bacalah Al-Qur’an untukku” aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah aku yang harus membacanya, sedangkan Al-Qur’an itu diturunkan kepadamu?” beliau menimpali: “Aku lebih suka mendengarkannya dari orang lain.” Akupun membacakan surat An-Nisaa’ untuk beliau. Hingga telah sampai pada ayat: “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS. An-Nisa: 41) Aku lihat air mata beliau menetes.” (HR. Al-Bukhari)

Cobalah perhatikan uban yang menghiasi rambut beliau. Jumlahnya lebih kurang delapan belas helai di kepala dan janggut beliau. Camkanlah dengan mata hatimu, dengarkanlah kisah uban putih tersebut dari penuturan beliau. Abu Bakar Radhiallaahu anhu pernah bertanya: “Wahai Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , sungguh Anda telah beruban.” Beliau menjawab:
“Surat Hud, surat Al-Waqi’ah, surat Al-Mursalat, surat ‘Amma yatasaa`aluun dan surat Idzasy Syamsu kuwwirat telah menyebabkan aku beruban.” (HR. At-Tirmdzi)

sumber : sehari di kediaman rasulullah

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.