alhamdulillahilladzii ath’amana wa saqaanaa wa ja’alanaa muslimiin.
DHA’IF (LEMAH). diriwayatkan oleh Abu Dawud (no.3850), at-Tirmidzi (no.3457), Ibnu Majah (no.3283), dan selainnya.
Hadits ini lemah sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Albani. Sebab kecacatan hadits ini adalah idhtirab sanad (sanadnya goncang). Kadang dari Ismail bin Riyah dari bapaknya atau selainnya, terkadang juga dari Ismail bin Abu Idris dari Abu Said al-Khudri secara mauquf (sampai kepada Shahabat Abu Said al-Khudri saja). Kadang lagi dari Riyah dari budak Abu Said dan terkadang juga dari anak saudara (sepupu) Abu Said.
Imam adz-Dzahabi juga berkata dalam biografi isma’il bin Riyah : “Saya tidak mengetahui siapa dia. Abu Dawud mengeluarkan haditsnya. Perawi darinya (Ismail bin Riyah) hanyalah Abu Hasyim ar-Rumani saja dan haditsnya (Ismail) mudhtarib (goncang). Dan Riyah bin ‘Abidah padanya ada jahalah (tidak dikenal), Abu Hasyim (seorang terpercaya) meriwayatkan dari Isma’il bin Riyah dari bapaknya atai selainnya dari bapaknya bahwasannya Nabi saw apabila selesa dari makan, beliau berdo’a….(lalu menyebutkan do’a diatas).”
Kemudia Imam adz-Dzahabi berkata, “Gharib munkar!”
ADAPUN DO’A YANG SHAHIH :
dari Abu Umamah r.a bahwasannya Nabi saw apabila selesai makan, beliau berdo’a, ” Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak lagi baik dan penuh berkah di dalamnya, bukan pujian yang tidak mencukupi dan tersia-sia dan tidak dibutuhkan, wahai Rabb kami.” (alhamdulillahi katsiran thayyiban mubaarakan fiihi ghaira makfiyyin wa laa muwadda’in wa laa mustaghna ‘anhu rabbanaa)
(Shahih:diriwayatkan oleh Imam al-bukhari (no.5458 ), Ahmad dalam musnadnya (V/252, 256, 261, 267), Abu dawud (no.3849), at-Tirmidzi dalam Sunan-nya(no.3456) dan symaa-il Muhammadiyah (no. 191), Ibnu Majah (no.3824), an-Nasa’i dalam Sunan Kubra dan “amalul yaum wal Lailah sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf (I/163) oleh al-Mizzi)
Sumber : Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer