Aku pernah mendengar pribahasa yang berbunyi : “Berbuat kesalahan adalah manusiawi; menyalahkan orang berikutnya bahkan lebih manusiawi lagi.”
Astaga! Bukankah itu yang kita sebut “kebenaran yang gamblang?” Mari kita tanyakan kepada diri kita sendiri : Bila kita terlambat datang rapat, lupa ada janji bertemu, hasil ujian kita mengecewakan, gagal menyerahkan tugas pada waktunya, hasil tim kita tidak mencapai target, penjualan menurun, kamar kita sangat berantakan, kalkun panggang gosong, calon klien menolak, jarum timbangan badan bergerak ke kanan dan bukan ke kiri, atau bila 24 jam sehari terasa masih belum cukup—apa reaksi awal bila kita menabrak itu semua?
Ingin tahu apa yang aku sendiri katakan dalam berbagai kejadian itu? Apakah aku–sebagai orang dewasa yang matang—memiliki versi “dinding nakal”-ku sendiri? Hmmm…..ini benar-benar harus kupikirkan terlebih dahulu. Ya, sudah pasti, aku akan berkata “dinding nakal, dinding nakal!” Lalu aku menemukan pepatah Jepang yang menusukku tepat di tempat yang paling peka :
Benahi masalahnya, bukan kesalahannya.
Ya, mereka benar, bukan begitu?
Kurasa pepatah ini tercermin dengan baik dalam falsafah hidup dan keyakinan bangsa Jepang. Bangsa Jepang–seperti yang kita saksikan–merupakan bangsa yang paling berhasil berkiprah kembali dalam sejarah dunia setelah negara mereka benar-benar diratakan seperti panekuk selama Perang Dunia II pada 1945. Tetapi, oleh para ahli sejarah mereka diakui sudah bangkit kembali dan menciptakan keajaiban ekonomi pasca perang antara 1950 dan 1990.
Nah, dengan kredibilitas seperti itu, jelaslah bahwa kita sebaiknya belajar dari orang-orang jenius ini, bukan? Alih-alih cepat mencari “dinding” untuk disalahkan, sebaiknya kita membenahi masalahnya! Tentu saja!
Tetapi, aku ingin tahu : Mengapa aku begitu cepat menyalahkan “dinding” bila sesuatu menimpaku? Di sinilah aku teringat firman Allah, Sang MahaKuasa:
“Sungguh, manusia diciptakan sangat tidak sabaran; suka berkeluh kesah bila ditimpa kesusahan” (al-Ma’arij 70:19-20)
Subhanallah…Ia, Sang Mahakuasa, berkata bahwa kita ini S-A-N-G-A-T tidak sabaran dan suka berkeluh kesah bila ditimpa musibah. Kedengarannya persis seperti aku–mudah gugup dan panik bila sesuatu yang berbau bencana terjadi!
Dan kurasa, selagi aku berkeluh kesah itu, otakku cepat masuk ke modus gawat darurat (dengan sirene merah meraung-raung), memindai dan mencari-cari “apa” dan “siapa” di dalam database RAM memoriku yang tepat untuk terpilih menjadi dinding sekaligus bantal latih tinjuku, betul tidak?
Dan coba tebak! Robert Half yakin sekali bahwa kita pasti bisa menemukan bantal latih tinju kita : “Upaya mencari seseorang untuk disalahkan selalu berhasil”
Betul sekali!
(bersambung)